Diplomat Belok di Thailand

Dada penulis berdesir hebat, entah itu was-was, ragu atau penuh nafsu. Seorang pria mendekatkan badannya dan lalu mengarahkan bibirnya ke bibir penulis. Adegan itu lalu tertangkap kamera, dan entah kenapa tersebar luas ke orang-orang. Saya malu. Akan seperti apa reaksi keluarga dan teman-teman penulis ketika mereka tahu video penulis tertangkap basah seperti sedang berciuman dengan seorang pria berseragam. Apalagi video itu direkam di Bangkok, dekat red district Phat Pong.

Tenang pembaca, ini bukan seperti yang pembaca bayangkan. Adegan itu adalah salah satu rekaan dalam video yang memang diminta oleh teman-teman sebagai bagian dari project campaign #bereal #beresponsible di sebuah event yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (US Department of State) melalui pendanaan bersama dengan The Asia Foundation. Penulis dan beberapa teman dari Indonesia bergabung dengan teman-teman lain dari negara-negara ASEAN dibimbing oleh instruktur dari berbagai belahan dunia. Tujuannya satu dan cukup serius, membincang peran technology untuk perdamaian.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam benak penulis, bisa terbang ke Bangkok dan mengikuti acara bergengsi. Semua bermula dari secara random, penulis mengisi aplikasi YSEALI TechCamp Thailand: Promoting Peace with Technology. Penulis yang biasanya menunda-nunda mengisi aplikasi, tapi entah kenapa hari itu langsung selesai mengisi aplikasi. Tak dinyana-nyana, satu bulan kemudian, saat duduk manis mengikuti kursus bahasa perancis, sebuah notif email masuk dan memberitahu kalau penulis lolos sebagai peserta. Tadaaa, penulis langsung sujud syukur.

Diplomat urung karena sejatinya bukan diplomat.

Kabar gembira ini langsung membuat keluarga dan kolega bahagia, ada yang langsung video call, ada yang mengucapkan selamat, tapi tetep ada juga yang nyinyir. But its nothing dibanding rasa bahagia ini. Langsung saja penulis mengurus semua administrasi yang dibutuhkan. Selain packing, penulis langsung menghubungi komite di Indonesia, meminta surat undangan dengan nama dan afiliasi penulis. Surat ini penting untuk mengurus izin dan tentu saja mendapatkan dana tambahan. Walaupun sebenarnya sudah dapat dari penyelenggara acara.

Tak berapa lama, teman-teman delegasi dari Indonesia menghubungi dan membuatkan grup, kita saling chit chat dan berbicara mengenai do and donts yang ada di Thailand. Tidak lupa rencana jalan-jalan di sana seperti apa, bagaimana bentuk chargeran di sana, bagaimana bahasa inggris orang-orang Thailand, dan teknis keberangkatan nanti di bandara. Kita sepakat kumpul sebelum take off dari Soekarno Hatta, jadi kalau sudah ada yang duluan tiba, maka akan saling menunggu, karena delegasinya tidak hanya dari Jakarta, tapi ada juga dari Makassar, Surabaya, Malang, Lombok dan Semarang. Hampir saja penulis ketinggalan karena kesiangan dari Ciputat, semua serba terburu-buru, pun ketika di imigrasi. Tapi alhamdulillahnya pada saat last boarding, penulis masih sempat bertemu dengan kawan-kawan. Dan Thailand, here we come.

Teman-teman delegasi Indonesia.

Keseluruhan perhelatan acara YSEALI TechCamp Thailand; Promoting Peace with Technology, mulai dari seminar, workshop, dan bahkan tempat tinggal peserta digelar di Dusit Thani Hotel, Bangkok, Thailand. Hotel berbintang lima yang terletak tidak jauh dari Lumpini Park. Sepanjang perjalanan ke hotel, beberapa bangunan tinggi menampilkan potret wajah mending Raja Bhumibol Adulyadej, hal itu dilakukan memperingati hari kematian sang raja yang begitu dicintai rakyatnya.

Dusit Thani Bangkok

Ada jeda waktu kedatangan dan jam tidur di hotel dan kita manfaatkan dengan berjalan-jalan sekitar hotel. Kita makan malam di luar berhubung tidak diakomodasi oleh pihak panitia. Hal yang perlu diperhatikan di Thailand, tidak semua orang Thailand faham akan bahasa inggris dan konsep makanan halal. Ujungnya kita makan di KFC Thailand yang rasanya nano-nano, padahal kita udah membayangkan enaknya. Kita pesan fried fish karena hanya ikan yang dalam pandangan penulis memenuhi unsur halal yang lebih tinggi dibandingkan ayam.

Roomate penulis, Adam Pacio dari Philippine.

Penulis satu kamar dengan teman dari Philipine, Adam Pacio, seorang pemuda dari selatan Philippine, yang dekat dengan Mindanau. Sebelum salah satu dari kita tertidur, kita bercerita tentang kondisi negara masing-masing. Mulai dari Presiden Duterte, keislaman di Philippine Selatan, dan tetap saja sebagai laki-laki, obrolannya tidak jauh dari “bagaimana kehidupan malam di Bangkok”

Ada sekitar 200 peserta yang terlibat dalam acara regional ini, kami-kami ini terpilih dari sekitar 2000 an peserta yang mendaftar. Kami yang terlibat umumnya adalah pemuda pemudi dari berbagai negara di ASEAN yang peduli dengan isu-isu terkini, khususnya fake news dan hate speech yang menjamur akibat penetrasi teknologi. Kehadiran teknologi memang ibarat dua sisi mata pisau, sangat berguna, namun juga bisa membawa hatred dan perpecahan suatu kelompok.

Selama jalannya acara, 200 orang ini selalu terbagi-bagi dalam setiap kelompok, masing-masing harus memilih mengenai isu apa yang mau didalami dan bagaimana kita diberi skill penggunaan teknologi untuk menyelesaikan isu-isu tersebut. Selama tiga hari kita diberi game, seminar, workshop, dan working group untuk mengerjakan suatu project. Kita juga diberi session untuk networking dengan para instruktur, dan orang-orang dari Asia Foundation dan US State Department.

Project yang penulis terlibat di dalamnya adalah project membuat campaign untuk menyadarkan anak-anak muda tentang bahaya menyebarkan foto, maupun berita yang belum tentu kebenarannya. Ceritanya adalah ada dua orang pria yang sedang berbisik, namun karena angle fotonya kurang tepat, akhirnya dua orang pemuda ini diisukan sebagai dua orang gay yang sedang berciuman. Padahal dua orang pemuda ini sedang berbisik tentang bisnis.

Respon yang didapatkan dari video ini sangat overwhelming. Duta Besar US untuk Thailand dan beberapa instruktur memuji jikalau video ini sangat mengena dan sesuai dengan tema kali ini. Beberapa ada yang bilang jenius, dan beberapa lagi yang bahkan tidak sama sekali pernah berjabat tangan dan melirik, akhirnya melirik dan menjabat tangan penulis. Semua tentu karena kerja keras semua kru kelompok, beberapa diantara nya sangat cerdas. Penulis hanya menjadi pameran di sini.

The best part dari perjalanan ini tentu saja saat kami semua menjelajahi kota Bangkok. Beberapa dari kami ada yang ke Chao Praya, ada yang ke Khaosan Road, dan tentu saja karena kami orang Indonesia yang tidak bisa jauh dari mall, kami ke Mall MBK. Jujurly, kami tidak puas kuliner karena mungkin factor halal yang menjadi factor pilihan. Penulis hanya makan Tom Yam yang rasanya sangat asam, beberapa fritter yang rasanya berbeda jauh dengan Indonesia. Kalau makanan di hotel tentu sudah sangat familiar karena ada western menu.

Kami ke Khaosan Road, jalanan kuliner dan hiburan yang ada di Bangkok. Sangat ramai dengan pembeli, jikalau di Jakarta mungkin agak mirip dengan jalanan Sabang dan jalan Jaksa. Beberapa makanan unik seperti kelabang goreng, kalajengking goreng dan beberapa serangga lainnya di perlihatkan. Oh iya jangan lupa naik tuktuk, salah satu alat transportasi yang harganya lebih mahal dari taksi.

Kami pulang ke Indonesia setelah 4 hari tiga malam di Bangkok. Meninggalkan keseruan dan pengalaman yang tidak terlupakan di Dusit Thani Bangkok. Hal yang selalu penulis ingat dari perjalanan ini adalah saat penulis dan pegawai hotel saling tidak mengerti keberadaan laundry yang penulis pakai. Jadi karena biaya laundry sangat mahal, penulis tidak mencuci pakaian di sini, namun hanya meletakkan pakaian kotor di laundry bag yang disediakan di hotel. Suatu ketika penulis tidak mendapati laundry bag itu. Penulis takut laundry penulis di cuci dan akan dikenakan biaya yang penulis tidak sanggup bayar. Saking takutnya, penulis menelpon receptionist dan memberitahukan jikalau laundry bag itu jangan dicuci, tapi pegawai hotel malah mengirimkan house keeping, lalu penulis dan house keeping yang tidak mengerti bahasa inggris, bolak balik menggunakan bahasa tangan mengenai laundry bag dan peragaan mencuci baju. Long story short, akhirnya selesai setelah penulis menyatakan thank you ke receptionis setelah penulis menemukan kembali laundry bag yang ternyata di simpan di samping gordyn.

Saomi Rizqiyanto

A scholars who also an enterpreneur. Graduate from University of Indonesia and Lecturer at State Islamic University Jakarta. A founder and CEO of Masamitra, an independent media consultant.