Social Shopping, Jelajah Jemari di Bursa Belanja

Sekarang saya bisa ngobrolin proyek bersama teman saya di Istanbul, sementara di sisi lain saya sedang mem bid harga di e-bay untuk sebuah jam tangan cartier bekas pakai yang masih mengkilap seharga 100 dolar dengan orang asing di Singapore, padahal sebenarnya saya sedang menyesap kopi starbucks ditemani iPad, memilih beragam pattern kemeja next di café sudut mall senayan city saat makan siang.

Tentu itu bukan ilusi semata, meledaknya penetrasi internet di Indonesia memungkinkan semua kegiatan itu dilakukan secara multitask­ing. Berbelanja dan berbincang dengan teman-teman dimanapun kita berada ten­tu bukan hal mustahil, saya sendiripun sering melakukan belanja online, biasan­ya ketika akan ada acara sosial tertentu, saya harus membeli baju baru. Biasanya ke mall tapi saat kita lelah dan tidak ada waktu, tentu belanja online adalah pili­han. Dan saya biasa chatting dengan te­man-teman online saya, meminta saran kepada mereka apakah ini bagus atau bagaimana. Saat komentar bagus lebih banyak dari pada buruk, maka saya pun membeli baju pilihan saya.

Saya sedikitpun tidak pernah ragu mengenai berbelanja online, selama nomor yang saya hubungi terkoneksi, berhubungan email juga lancar, maka saya akan percaya. Masalahnya dalam dunia ecommerce atau perdagangan online selalu saja ada orang-orang yang ragu, mereka kebanyakan bertanya “jan­gan-jangan jahitan bajunya gak rapi” atau “jangan-jangan setelah kita transfer, barang gak dikirim” ya itu keraguan yang wajar, tapi sepanjang saya berbelanja on­line, alhamdulillah, penipuan atau fraud itu tidak pernah terjadi.

Di Indonesia sendiri, perkembangan e commerce belakangan terjadi pening­katan yang luar biasa. Dulu sewaktu saya SMU, saya hanya bisa membeli buku di gramedia online, pada waktu itu belum nge tren baju-baju di jual di internet. Tapi sekarang mulai dari baju sampai tablet terkini juga dijual melalui online store. Mulai dari bhinneka.com yang menjual komputer dan beragam aksesorisnya, hingga berniaga.com yang bisa dibilang pasar atau marketplace dimana semua orang bisa menjual produk.

Boomingnya perdagangan ele­ktronik ini tentunya tidak terlepas dari perkembangan social network di Indone­sia. Kalau di luar negeri mungkin trigger nya adalah amazon.com dan ebay.com namun di Indonesia, justru facebook.com lebih memainkan peranan pent­ing disamping tentu saja kehadiran re­cent updates di Blackberry Messanger juga turut meramaikan penjualan online ini. Sebenarnya ada trigger lokal yang memainkan peranan penting. Kaskus.com disebut memiliki peranan strategis dalam meramaikan industri online ini. Bahkan sebutan agan dan sista muncul dari forum jual beli terbesar di Indonesia tersebut.

Tapi bagi saya yang sering berlama-lama memantengi wall facebook dan re­cent updates di BBM, orang lebih sering memasarkan produk mereka di media so­sial ini. Dan biasanya respon yang dida­pat banyak dan cepat. Bahkan toko-toko online besar di Indonesia mempunyai fans page tersendiri untuk menyalurkan produk-produk mereka. Memang sih itu adalah cara memasarkan tapi tak jarang juga mereka, para penguasaha online, yang tidak mempunyai website, memi­lih benar-benar memanfaatkan facebook dan bbm sebagai media jualan mereka.

Teman-teman saya sering menawar­kan produk melalui facebook dan bbm, kadang sampai men tag atau bahkan membroadcast promosi produk mereka. Lalu tak jarang saya atau orang-orang lain dalam circle pergaulan mereka, sal­ing memberi komen produk, mulai dari yang biasa seperti tanya harga, sampai bertanya mengenai kualitas kw atau ori, terkadang juga ada yang sampai benar-benar membeli produk promosi tersebut.

Harian Wall Street Journal pernah melansir tren ini dalam salah satu liputan­nya, dikatakan, social shopping bisa jadi akan menjadi the next big thing dalam perkembangan internet selanjutnya, ter­lebih konvergensi media yang kini mul­tiplatform akan mendukung aktifitas jual beli online secara social. Bahkan salah satu konsultan internet, spire, melan­sir data riset bahwa 90% orang mencari referensi berdasarkan kenalan mereka, 40% orang membeli produk berdasarkan rekomendasi teman-temannya, sedang­kan hanya 10% orang yang membeli dari search engine atau website aslinya.

Temuan ini tentu mencengangkan, bahwa kekuatan social media sebagai medium advertising atau bahkan medi­um penjualan bisa jadi mengalahkan po­sisi wesbite yang memang diperuntukkan khusus untuk jual beli. Oleh karena riset ini jualah yang akhirnya membuat mul­tiply.com salah satu social media yang terkenal pada zaman friendster, mengu­bah haluannya untuk menjadi medium marketplace sosial. Karena selain murah dan mudah, jualan online melalui media sosial lebih efektif.[]

Saomi Rizqiyanto

A scholars who also an enterpreneur. Graduate from University of Indonesia and Lecturer at State Islamic University Jakarta. A founder and CEO of Masamitra, an independent media consultant.