Betty Vinson, Dilema Etis Sang Akuntan

Satu pertanyaan yang selama ini Betty Vinson hindari adalah ketika putrinya yang berusia 12 tahun bertanya “Mommy Why Do You Have to Go to Jail” (Mama, Kenapa Ibu Harus Pergi Ke Penjara). Pengadilan Federal Amerika Serikat memutus bersalah atas perkara Betty Vinson, Chief Financial Officer dari WorldCom, yang terindikasi melakukan kecurangan penyesuaian laporan keuangan. Atas perbuatannya, Betty dihukum lima bulan penjara, hukuman paling singkat sesama koleganya yang dihukum paling singkat 3 tahun (Pullman, 2003).

Betty Vinson adalah lulusan dari Mississippi State University, menyandang gelar sarjana akunting, menikah dengan pacarnya semasa kuliah, memiliki seorang putrid an bekerja di beberapa bank kecil hingga akhirnya menemukan pekerjaan impian, menjadi kepala keuangan di firma keuangan yang menangai laporan keuangan para pebisnis silicon valley di kantornya yang mentereng di Wall Street. Hari-harinya dilalui dengan sebuah kehidupan yang mapan di New York.

Hidupnya dipertaruhkan ketika executive di WoldCom memintanya untuk menyesuaikan laporan keuangan karena keuntungan perusahaan tersebut akhir-akhir ini menurun. Tidak tangung-tanggung nilai penyesuaian akuntingnya, angkanya mencapai 828 Juta US Dollar, sebuah kebohongan yang seharusnya dihindari. Vinson menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah tidak etis dan dapat membahayakan para klien WorldCom akibat laporan keuangan tersebut. Ibu satu anak ini menyerah, dia menuruti perintah atasannya walaupun merasa bersalah, lalu kemudian menyatakan mengundurkan diri. Namun permintaannya tidak diterima, para executive di WorldCom mengatakan bahwa tindakannya hanya sekali ini saja, argument yang dibangun adalah “sekarang pesawat kita sedang terbang, biarkan kita menyelesaikan penerbangan ini dulu, jikalau pesawat ini sudah mendarat, silakan jikalau mau keluar” ujar CEO WorldCom Bernard Ebbers dan CFO Scott Sullivan (Pullman, 2003). Vinson memutuskan untuk tinggal sementara.

Enam bulan kemudian, Ebbers dan Sullivan memanggil kembali Vinson, memintanya lagi untuk membuat penyesuaian, kali ini bukan sekali tapi berseri. Pertama sebesar 771 Juta US Dollar, kedua 560 Juta US Dollar, ketiga 743 Juta US Dollar dan terakhir 941 Juta US Dollar, yang jikalau di total penyesuaian tersebut mencapai angka hingga 4 Miliar US Dollar. Sebuah penyesuaian yang tidak main-main, apalagi kali ini, Ebbers dan Sullivan meminta Vinson menyembunyikan beberapa tanggal, bulan dan tahun dalam laporan keuangannya. Penyesuaian kali ini sangat berat karena nilai dan perlakuan terhadap laporan tersebut menyalahi aturan dan hukum yang berlaku di Amerika Serikat. Vinson terserang rasa bersalah akut yang menyebabkan dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Akhirnya Vinson menyatakan pengunduran dirinya secara resmi.

Alih-alih mengundurkan diri, Komisi Perdagangan Sekuritas Amerika Serikat sudah terlanjur mencium gelagat ketidakberesan di WordlCom. Vinson dinyatakan sebagai saksi kunci laporan keuangan palsu WorldCom dengan nilai fraud sebesar 11 Miliar US Dollar. Pengadilan kemudian menyatakan bahwa Betty Vinson tidak sekadar saksi kunci melainkan sebagai rekan konspirator, Betty setuju dengan dakwaan tersebut dan sangat kooperatif dengan tuntutan dakwaan, alhasil atas perbuatannya Betty Vinson, akuntan berusia 37 dihukum 5 bulan penjara, paling sedikit diantara rekan-rekan lainnya. Sullivan dihukum 5 tahun sementara Ebbers dikurung penjara selama 25 tahun. (Reeves, 2005)

Saomi Rizqiyanto

A scholars who also an enterpreneur. Graduate from University of Indonesia and Lecturer at State Islamic University Jakarta. A founder and CEO of Masamitra, an independent media consultant.