Chris Guillebeau: Life as a Micro Entrepreneur

Di usianya yang baru mencapai 35 tahun, Chris Guillebeau sudah mengelilingi 135 negara, padahal selama ini ia belum pernah sekalipun menjadi karyawan tetap dengan gaji dan benefit dari sebuah perusahaan. Paginya dilalui dengan sebuah ritual minum kopi, membalas email, membaca berita online, sarapan dan setelah itu siap untuk melakukan bisnis. Hidupnya memiliki kebebasan dalam mengatur waktu, memiliki pendapatan yang teratur, dan hidup untuk membantu orang lain. Apa rahasia dibalik dorongan itu semua, jawabannya mudah, menjadi micro entrepreneur.

Hari masih pagi tatkala Chris memposting dalam website nya www.chrisguillebeau.com bahwa dirinya akan menjadi pembicara di empat kota dan dua negara sekaligus, pertama di Vancouver, Canada dan kedua di Portland, OR, Meza, AR serta Los Angeles, CA di United States. Postingannya ini mendadak dibaca oleh lebih dari 1200 orang dan mendapatkan respon positif berupa banyaknya orang yang ingin mengikuti kuliahnya. Layaknya seorang professor ataupun mahaguru, Chriss mendapatkan banyak sekali penggemar dan setiap kali ia menjadi pembicara, banyak yang hadir dan memberikan antusiasme yang positif. Kegiatan ini selalu dilakukan Chris semenjak ia lulus kuliah dari University of Washington, secara sederhana ia menuliskan tiga kegiatan yang selalu ia lakukan, menulis, travelling dan menjadi pembicara.

Chriss Guillebeau sedang memberikan advis terkait bisnis dan hidup sukses kepada salah seorang pendengar setianya.

Chris, seorang penulis buku The Art of Non Conformity memimpin sebuah gerakan apa yang disebutnya sebagai micro entrepreneurship, dimana setiap orang bebas menjadi entrepreneur tanpa harus memiliki modal ratusan juta rupiah. Rahasia sukses bagaimana orang bisa menjadi entrepreneur menurut Chris sangat mudah, cukup memiliki ketrampilan unik dan mempunyai ceruk pasar dimana orang mau membayar kemampuan tersebut. Contohnya seperti yang dia lakukan sendiri, memiliki kemampuan untuk menulis dan memiliki hobi jalan-jalan membuka pikirannya akan membantu orang lain bahwa “kamu bisa menjadi seseorang yang kamu inginkan tanpa harus bekerja untuk orang lain”. Chris kini membantu jutaan orang untuk menemukan jalannya sendiri.

Chris yang juga lulusan dari Athens State University ini memberikan penjelasan, menjadi entrepreneur tidak melulu mengenai modal besar, mempunyai tempat atau channel untuk distribusi produk dan hal-hal rumit lainnya. Tidak perlu menjadi seorang Donald Trump untuk mendapatkan gelar sebagai seorang Tycoon atau entrepreneur, tidak perlu juga menjadi seorang Mark Zuckerberg yang memiliki keahlian rumit dalam menciptakan aplikasi social media terpopuler untuk menyandang gelar technopreneur, Chris meyakinkan cukup memiliki satu keahlian dan jual keahlian anda, itulah yang dimaksud dengan micro entrepreneur. Seorang yang mampu memilihkan pakaian terbaik dan memilihkan kepada seorang aktris misalnya, atau dalam bahasa kerennya personal buyer, adalah juga seorang entrepreneur.

Dari kemampuannya untuk menulis, memotivasi dan menjadi pembicara, Chris kini menjadi seorang speaker yang nasihatnya akan “menjadi sukses dalam definisi sendiri” ditunggu oleh banyak orang, layanan konsultasinya juga selalu didengarkan, tulisannya yang berseri di website nya selalu dibaca lebih dari seratus ribu orang, bukunya yang berjudul “The $100 StartUp” masuk ke dalam list New York Times Best Seller. Hingga kini Chris telah merampungkan perjalanannya ke lebih dari 190 negara, menjadi volunteer untuk organisasi di Afrika Barat, dan tiap tahun mengorganisir World Domination Summit yang digelar di rumahnya di Portland, Oregon, US.

Saomi Rizqiyanto

A scholars who also an enterpreneur. Graduate from University of Indonesia and Lecturer at State Islamic University Jakarta. A founder and CEO of Masamitra, an independent media consultant.